Pesawat Garuda Indonesia dengan Livery Khusus Pikachu dan Aksen Batik (Dok GIAA).

kabarmuarateweh.id – Nilai saham PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) terbang tinggi pada sesi pertama perdagangan Jumat (10/10/2025), naik signifikan sebesar 9,52% hingga menembus level Rp115 per saham.

Lonjakan tersebut membuat saham GIAA menyentuh level tertingginya sepanjang tahun 2025. Secara year to date, harga saham maskapai pelat merah ini telah melesat hingga 109,09%, atau naik lebih dari dua kali lipat sejak awal tahun.

Lonjakan harga saham yang dramatis ini didorong oleh pengumuman rencana perseroan untuk melaksanakan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau yang dikenal sebagai private placement.

Suntikan Dana Jumbo Rp30,3 Triliun dari Danantara

Aksi private placement ini akan dipimpin oleh PT Danantara Asset Management (DAM), yang saat ini telah menjadi pemegang saham terbesar di GIAA (64,54%).

Penambahan modal ini akan dilakukan melalui dua skema utama:

  1. Setoran Modal Tunai: Danantara akan menyetor modal tunai sebesar maksimal US$1,44 miliar (sekitar Rp23,66 triliun).
  2. Konversi Pinjaman: Konversi pinjaman pemegang saham (shareholder loan/SHL) menjadi saham baru senilai US$405 juta (sekitar Rp6,65 triliun).
Rekomendasi Berita  Harga Emas Antam Hari Ini, Tetap Stabil di Angka Segini per Gram

Untuk merealisasikan rencana ini, GIAA diperkirakan akan menerbitkan sekitar 407,89 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp75 per saham.

Aksi korporasi ini memerlukan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 12 November 2025.

Manajemen GIAA menjelaskan bahwa tujuan utama dari private placement ini adalah untuk memperbaiki kondisi keuangan perseroan yang sedang tertekan. Hingga akhir Juni 2025, GIAA masih mencatat:

  • Ekuitas Negatif: Liabilitas GIAA mencapai US8,01miliar,melebihiasetUS6,51 miliar. Hal ini menyebabkan ekuitas perseroan negatif sebesar US$1,49 miliar.
  • Rugi Bersih Membengkak: Perseroan juga mencatat kerugian bersih yang diatribusikan kepada pemilik induk sebesar US$143,7 juta pada Semester I 2025, membengkak 41,36% secara tahunan.

Tiga tujuan utama private placement ini adalah: memperbaiki nilai ekuitas, memperkuat likuiditas dan struktur permodalan, serta membantu keberlangsungan usaha perseroan di masa depan.

Meskipun injeksi modal ini vital bagi perbaikan keuangan GIAA, private placement ini membawa risiko signifikan bagi investor publik. Seluruh saham baru akan diserap oleh Danantara Asset Management selaku investor sekaligus kreditur perseroan.

Rekomendasi Berita  Harga Telur dan Beras Sering Naik, Pasar Pendopo Tetap Ramai Pengunjung

Tanpa adanya hak memesan efek, aksi ini diperkirakan akan menyebabkan delusi kepemilikan saham publik secara signifikan.

Porsi kepemilikan masyarakat yang saat ini mencapai sekitar 27,46% diperkirakan akan turun drastis menjadi hanya sekitar 5,03% dari total saham yang beredar, atau mengalami dilusi hingga 81,7%.(*)

Penulis : Yehezkiel

Editor : Apri