Ilustrasi Novel Bumi Manusia ( Intagram @bumimanusiavibes )

KABARMUARATEWEH.ID Buku ini merupakan novel pertama dari seri Tetralogi “Buru”. Novel lawas ini terbit pertama kali di tahun 1980 dan di tahun 1981, buku ini sempat dilarang beredar oleh Jaksa Agung Indonesia.

Mengusung genre romansa, “Bumi Manusia” mengambil latar waktu di sekitar tahun 1899. Novel ini berkisah tentang Minke, seorang siswa HBS, sekolah yang sebagian besar siswanya itu orang Belanda. Suatu ketika, Minke yang merupakan anak pribumi bertemu dengan seorang Annalies di rumah Nyai Ontosoroh.

Nyai Ontosoroh digambarkan sebagai sosok yang memiliki kepribadian tak terduga. Jujur saya benar-benar kagum dengan penulis yang berhasil membuat penokohan seperti ini. Karena karakter yang kuat yang unik dari masing-masing tokohnya ini mampu menggerakkan jalan cerita.

Buku ini bukanlah novel romansa biasa karena didalamnya terdapat sejarah Hindia Belanda dalam ceritanya. Membaca buku ini membuat saya bisa mengetahui tentang kehidupan orang Eropa dan pribumi di masa tersebut. Semuanya terasa menyenangkan karena dikemas dalam bentuk fiksi.

Rekomendasi Berita  Spoiler Drama ‘Queen of Tears’ Episode 9 : Kim Ji Won Tidur Di Kamar Kim Soo Hyun Setelah Mereka Bercerai

Novel ini menceritakan pribumi yang ditindas pada saat belum merdeka. Novel ini mengaduk perasaan para pembaca.

Meski mempunyai alur yang unik, bukan berarti buku ini tidak memiliki kekurangan. Ada kata yang menggunakan ejaan lama dan mungkin berbeda dengan kata yang ada di KBBI. Lalu juga ada beberapa kata dalam Bahasa Belanda. Sehingga pembaca sedikit kesulitan dalam memahami. Selain itu, bacaan ini terasa berat dan ada adegan yang sedikit mengganggu kenyamanan.

Contoh gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini seperti yang dibawah ini :

“Siapa yang menjadikan aku gundik? Siapa yang membikin mereka jadi nyai-nyai? Tuan-tuan Bangsa Eropa, yang dipertuankan. Mengapa di forum resmi kami ditertawakan? Dihinakan? Apa Tuan-tuan menghendaki anakku juga menjadi gundik?” Nyai (hal 427).

Tetapi, secara keseluruhan “Bumi Manusia” tetap menarik. Bahkan buku ini sudah diterjemahkan dalam beberapa bahasa dan diangkat ke layar lebar.