
kabarmuarateweh.id – Gelombang serangan lanjutan masih mengguncang wilayah Tehran hingga Minggu siang, 1 Maret 2026, dengan intensitas yang dinilai cukup tinggi.
Getaran akibat rangkaian serangan tersebut bahkan dirasakan langsung oleh staf dan personel keamanan di lingkungan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tehran.
Staf KBRI yang juga menjabat sebagai Sekretaris III, Nikmatur R. Chaniago, menyampaikan bahwa situasi di ibu kota Iran itu cenderung lengang. Aktivitas masyarakat terpantau sangat terbatas, sementara sejumlah sektor strategis belum kembali beroperasi secara normal akibat kondisi keamanan yang masih fluktuatif.
Di tengah situasi tersebut, KBRI memastikan seluruh 329 warga negara Indonesia yang berada di Iran, mayoritas mahasiswa, dalam keadaan aman dan sehat.
Hingga kini tidak terdapat laporan mengenai WNI yang terdampak langsung secara fisik maupun menjadi sasaran ancaman keamanan secara spesifik.
Meski demikian, pemantauan terus diperketat dengan menyisir berbagai simpul komunitas Indonesia guna mengantisipasi kemungkinan adanya WNI yang belum terdata atau belum melaporkan keberadaannya.
Koordinasi dilakukan melalui berbagai saluran komunikasi digital, termasuk penyelenggaraan forum virtual town hall secara berkala sebagai sarana komunikasi dua arah untuk memantau kondisi psikologis serta kebutuhan logistik WNI secara waktu nyata.
Dalam kondisi konflik, perwakilan diplomatik Indonesia menegaskan fokus utama tetap pada mandat perlindungan WNI di wilayah akreditasi.
Sebagai bagian dari langkah mitigasi krisis, KBRI juga menyiapkan akomodasi sementara yang dinilai lebih aman bagi mahasiswa setelah adanya kebijakan otoritas kampus yang mengosongkan asrama. Seluruh WNI diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, tetap berada di dalam tempat tinggal, serta menghindari kerumunan dan lokasi-lokasi strategis.
Terkait kemungkinan evakuasi, KBRI menegaskan bahwa keputusan tersebut berada di tangan pemerintah pusat di Jakarta berdasarkan kajian risiko yang menyeluruh.
Rencana kontinjensi yang disiapkan masih bersifat rahasia, dan setiap langkah bantuan maupun evakuasi akan dilakukan secara terukur dengan mengutamakan keselamatan, bukan sekadar kecepatan yang berpotensi meningkatkan risiko bagi warga negara.(*)
Penulis : Leonardo












