
kabarmuarateweh.id, MUARA TEWEH – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muara Teweh yang berlokasi di Jalan Yetro Sinseng, Kelurahan Lanjas, merupakan salah satu bangunan ikonik dan menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Barito Utara. Seperti yang diberitakan oleh salah satu media online lokal pada 14 Januari 2024, RSUD ini disebut sebagai rumah sakit termegah dan terbesar di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito, dengan total anggaran pembangunan mencapai Rp 276.390.946.000.
Bangunan megah berarsitektur modern ini berdiri menjulang dengan kombinasi warna biru dan putih, memiliki lima lantai utama serta dilengkapi dengan gedung penunjang di sayap A, B, dan C. RSUD Muara Teweh bertipe kelas C dan dibangun secara bertahap (multiyears), dengan peresmian penggunaan gedung barunya dilakukan pada 1 Januari 2018.
Tak mengherankan jika RSUD ini lolos akreditasi perdana berdasarkan sertifikat KARS No. KARS-SERT/447/VIII/2017 tanggal 25 Agustus 2017.
Dan berdasarkan Peraturan Gubernur Kalimantan Tengah No.22 Tahun 2015, RSUD Muara Teweh menjadi RS Rujukan untuk Wilayah Cakupan Regional III, yang meliputi 3 (tiga) kabupaten tetangga lainnya, yakni Kabupaten Murung Raya, Kabupaten Barito Selatan dan Kabupaten Barito Timur.
Tentunya sebagai rumah sakit rujukan Regional maka dituntut untuk memiliki berbagai fasilitas penunjang yang modern agar dapat meningkatkan kualitas mutu pelayanannya. unit penunjang yang dimiliki diataranya seperti peralatan CT Scan dengan kemampuan 64 slice, dan unit Cathlab, Pelayanan Hemodialisis. Dikutip dari laman resmi rsudmt.id bahwa unit penunjang tersebut telah beroperasi sejak awal tahun 2022 (sampai tahun 2025 baru 3 tahun usia).
Dalam artian sarana penunjang serta bangunan ini usianya masih sangat belia.
Namun pada saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara pihak RSUD Muara Teweh, bersama DPRD dan Pemerintah Kabupaten, Senin 11 Agustus 2025 di ruang rapat DPRD Barito Utara ada sesuatu yang terkuak dibalik kemegahan gedung yang terlihat menonjol dari luar serta kecanggihan alat yang dimiliki.
Dalam sidang yang dipimpin oleh waket II DPRD, Hj Henny Rosgiaty Rusli serta dihadiri oleh 17 anggota DPRD lainnya, 25 Eksekutif, pihak RSUD Muara Teweh beserta jajarannya yang dipimpin oleh Dirut RSUD, Tiur Maida.
Sejumlah anggota DPRD Barito Utara menyampaikan keluhan – keluhan yang digaungkan oleh masyarakat Barito Utara selama ini, terkait pelayanan secara menyeluruh yang dianggap sangat merugikan masyarakat.
Dua hal yang disampaikan paling menonjol yaitu terkait kesalahan diagnosa terhadap pasien serta pelayanan pasien BPJS.
Seperti yang disampaikan oleh Hasrat, politisi PAN tersebut bahwa masyarakat pengguna BPJS masih tetap harus mencari ( membeli) obat dari luar karena tidak ada ketersediaan di Rumah Sakit.
Selain itu juga Hasrat meminta obat yang ditebus oleh pasien agar diperhitungkan dan dicatat sesuai kebutuhan pasien.
“Jika memang habis, mintalah pasien untuk menebus, ini tebus nya 4, yang terpakai baru dua, malah diminta nebus lagi, sisa dua nya kemana ?,” tanya Hasrat.
Hj Henny Rosgiaty juga mempertanyakan, diagnosa atau penyakit yang terindikasi oleh pasien selalu sakit Jantung.
“Saya sudah banyak mendengar keluhan warga yang saya temui di desa – desa, mereka selalu mengeluhkan sakit jantung hasil diagnosa RSUD Muara Teweh, itu bagai mana sih sebenarnya, apa memang jantung atau apa, sebab jika di rujuk ke Banjarmasin atau Palangka Raya, malah diagnosa disana penyakitnya beda,” tanya Hj Henny menegaskan.
Ditempat yang sama Dirut RSUD Muara Teweh , dr Tiur Maida didamping jajaran RSUD lainnya memaparkan.
Terkait bangunan ( ruang) kerja didalam bangunan gedung yang megah tersebut, yang usia bangunannya masih terhitung belia ini terdapat banyak sekali ruangan yang kondisinya memprihatinkan dan perlu perbaikan serta penanganan segera oleh pemerintah daerah.
Tercatat ada beberapa ruangan yang ditampilkan di layar Slide seperti ruang mesin sterilisator 1 lantai 1 wing A, plapon berlubang dan dinding berjamur, ruang persiapan alat operasi lantai 2 wing A, ruang kamar operasi lantai 2, dan masih banyak lagi ruang – ruang yang ditampilkan dengan kondisi yang perlu mendapat perhatian.
“Jika begini bukan kami yang curhat, tapi malah pihak RSUD juga curhat,” sentil Hj Henny pedas.
Terkait masalah diagnosa yang selalu kurang tepat (salah)dikatakan oleh dr Tiur bahwa RSUD membutuhkan alat CT Scen sudah sejak lama tidak berfungsi dengan baik, dan boleh dikatakan rusak.
Kerusakan alat tersebut dijelaskan Tiur terjadi sebelum dirinya ditempatkan / ditugaskan di RSUD Muara Teweh.
Memang kata dr Tiur Dirut sebelum dirinya sudah banyak melakukan tahapan – tahapan perbaikan terhadap alat CT Scen tersebut.
Saat ditanya efek negatifnya bagi nyawa pasien jika diagnosa selalu salah, dr Tiur menjelaskan pihaknya memberi rujukan ke Paskes yang lebih tinggi (Palangka Raya / Banjarmasin) agar meyakinkan diagnosa yang sebenarnya.
“Rujukan itu bukan suatu penyakit yang sudah pasti, merujuk pasien ke paskes yg lebih tinggi supaya meyakinkan diagnosa yang sebenarnya, karena diagnosa di RSUD M. Teweh masih belum pasti,” ucap Tiur
Juga saat diminta penjelasan oleh Media jenis obat yang diberikan kepada pasien apakah sesuai diagnosa RSUD Muara Teweh yang keliru tersebut?? Dia menerangkan pihak Rumah Sakit akan memberikan obat dasar (mengawali) saja terlebih dahulu.
Dan menurut dr Tiur alat CT Scen yang baru akan didatangkan sekitar bulan Agustus ini pula.
Disediakan oleh pusat sementara pihak RSUD hanya menerima alatnya saja dan SDMnya sudah didiapkan.
Adapun RDP kali ini menghasilkan kesimpulan:
1 Penambahan alat kesehatan, obat – obatan dan bahan habis pakai serta Operasional RSUD lainnya akan dibicarakan DPRD Barito Utara dengan Tim anggaran
Pemerintah Daerah.
2. DPRD dan Pemerintah Daerah menjadwalkan kunjungan ke RSUD Muara Teweh.(*)
Penulis : Leonardo’
Editor : Apri













