Lontong Gratis di Tengah Banjir.

kabarmuarateweh.id – Ketika banjir merendam kampung halaman, yang tenggelam bukan hanya rumah dan jalan, melainkan juga ketenangan batin anak-anak muda yang hidup di perantauan.

Pada akhir 2025, saat banjir melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, mahasiswa asal daerah-daerah tersebut justru harus menahan kecemasan dari kejauhan. Di Bandung, mereka menghadapi hari-hari dengan perasaan gelisah menunggu kabar keluarga, menghitung sisa biaya hidup, serta berusaha tetap berkonsentrasi pada perkuliahan di tengah ketidakpastian yang datang dari kampung halaman.

Bandung mungkin jauh dari luapan sungai dan genangan air. Namun bagi mahasiswa perantauan asal Sumatra, jarak menghadirkan luka yang tak kasat mata. Di satu sisi, mereka menata masa depan melalui bangku kuliah; di sisi lain, orang tua dan sanak saudara di kampung halaman berjuang menyelamatkan diri dan harta benda dari bencana banjir. Terhambatnya kiriman uang, terputusnya komunikasi, serta meningkatnya beban kebutuhan sehari-hari membuat kehidupan di perantauan kian berat untuk dijalani seorang diri.

Di tengah situasi itu, sebuah kedai sederhana di Bandung memilih untuk tidak tinggal diam. Kedai Lontong Medan Ka’ Zahra, milik Bapak Tagor Lubis, membuka pintunya bagi para mahasiswa asal Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang terdampak secara tidak langsung oleh banjir Sumatra. Kedai Lontong Medan Ka’ Zahra berlokasi di Jl. Dipati Ukur No.42/60, Lebakgede, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat, kawasan yang akrab dengan kehidupan mahasiswa dan perantau. Tanpa syarat, tanpa verifikasi identitas, tanpa pertanyaan berlapis. Siapa pun yang datang, dipersilakan duduk dan makan.

Rekomendasi Berita  Pekerjaan Pipa Terbengkalai di Lakekun Barat, Kadis PUPR: Silakan Tanya PPK dan Rekanan

Keputusan itu berangkat dari empati yang tulus. Bapak Tagor memilih menyediakan makanan gratis berupa lontong Medan lengkap dengan lauk-pauk, agar para mahasiswa tetap memiliki energi untuk bertahan dan kekuatan batin untuk terus mendoakan keluarga mereka di kampung.

“Yang penting mereka tetap makan. Biar kuat, dan bisa terus berdoa,” tutur Bapak Tagor. Kalimat sederhana itu menyimpan makna yang dalam. Ia tahu, lapar bukan hanya urusan perut, tetapi juga tentang runtuhnya semangat ketika seseorang merasa sendirian di tanah rantau.

Sepiring lontong Medan di Kedai Ka’ Zahra bukan sekadar hidangan khas. Ia menjelma menjadi pengikat kenangan, pengingat rumah, dan pelukan tak terlihat bagi mereka yang sedang cemas menunggu kabar dari kampung halaman. Di meja-meja sederhana itu, mahasiswa perantauan menemukan ruang aman—tempat menenangkan diri sebelum kembali menghadapi hari yang panjang.

Aksi sosial ini pun menyebar luas di media sosial dan menuai banyak apresiasi dari warganet. Banyak yang melihatnya sebagai wujud nyata gotong royong yang masih hidup di tengah bencana. Di saat kabar banjir membawa duka, cerita dari Kedai Lontong Medan Ka’ Zahra justru menghadirkan harapan kecil yang hangat.

Rekomendasi Berita  Perkuat Sinergi, TP PKK Barito Utara Fokus pada 10 Program Pokok

Lebih dari sekadar rekomendasi tempat makan, kisah ini adalah rekomendasi nilai. Bahwa kepedulian bisa lahir dari usaha kecil, dari dapur sederhana, dan dari hati yang tulus untuk peduli.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa untuk berbagi tak harus menunggu berlebih. Cukup dengan sepiring lontong yang disajikan dengan penuh kasih, maka hal itu bisa menjadi penyangga harapan bagi mereka yang sedang rapuh di perantauan.

Penulis : Leonardo