Kantin Ibu Tatang, Sahabat Mahasiswa di Akhir Bulan.

kabarmuarateweh.id – Di salah satu sudut Jalan Sekeloa Tengah, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, berdiri sebuah kantin sederhana yang nyaris tak berubah sejak puluhan tahun silam. Kantin ini tanpa papan nama mencolok dan tanpa sentuhan desain estetik. Yang ditawarkan hanyalah deretan lauk rumahan, kepulan uap nasi hangat, serta senyum seorang ibu yang memahami bahwa lapar bukan sekadar rasa, melainkan sebuah keadaan.

Lapar itu kerap hadir di penghujung bulan, di sela tanggal-tanggal tua, ketika uang kiriman orang tua belum juga tiba. Bagi mahasiswa perantauan, kantin tersebut bukan sekadar tempat makan, melainkan ruang kecil yang menawarkan kelegaan tempat di mana kebutuhan paling dasar dipenuhi dengan kesederhanaan dan empati.

Ibu Tatang bukan sekadar penjual makanan.
Bagi banyak mahasiswa, Kantin Ibu Tatang dikenal bukan lewat iklan atau spanduk mencolok, melainkan melalui bisikan solidaritas yang berpindah dari kakak tingkat ke adik kelas, dari teman kos ke rekan diskusi.

“Kalau lagi mepet, ke Bu Tatang saja. Di sana bisa makan dulu, bayarnya nanti setelah dapat kiriman dari orang tua.”

Kalimat itu beredar seperti rahasia kecil, sederhana, namun kerap menjadi penyelamat di masa akhir bulan.

Rekomendasi Berita  Bupati Shalahuddin Wujudkan Janji 100 Hari Kerja dengan Resmikan Parkir Gratis di RSUD Muara Teweh

Di kantin ini, makanan tidak diperlakukan sebagai komoditas semata, melainkan sebagai bentuk perhatian. Nasi disendok tanpa hitung-hitungan kaku. Lauk rumahan seperti tempe, tahu, ayam goreng, telur, sayur, dan sambal disajikan dengan porsi yang cukup mengenyangkan. Sajian-sajian itu kerap menjadi pelepas rindu pada masakan rumah: tidak mewah, tetapi cukup untuk menguatkan perut dan menenangkan hati.

Yang membedakan Kantin Ibu Tatang dari tempat makan lain bukan semata soal harga yang terjangkau, melainkan cara memandang manusia. Di sini, mahasiswa tidak diposisikan hanya sebagai konsumen, melainkan sebagai anak-anak yang sedang berjuang menempuh hidup dan pendidikan.

Ada empati yang tak pernah dituliskan, tetapi selalu terasa. Ada pengertian yang tak diumumkan, namun hadir dalam kebijakan-kebijakan kecil. Mahasiswa boleh menambah porsi nasi tanpa biaya tambahan. Kuah sop disajikan secara cuma-cuma untuk menemani lauk saat makan, sebuah perhatian sederhana bagi mereka yang isi dompetnya sedang terbatas.

Daya hidup Kantin Ibu Tatang tidak hanya bertumpu pada rasa dan keterjangkauan harga, tetapi pada hubungan emosional yang tumbuh perlahan antara Ibu Tatang dan para pelanggannya. Dari tahun ke tahun, tempat ini diwariskan sebagai cerita: dikenalkan oleh kakak tingkat kepada adik kelas, lalu dikenang kembali oleh para alumni.

Rekomendasi Berita  Begini Proses SPPG Siapkan Menu MBG di Tengah Maraknya Kasus Keracunan Siswa

Tak sedikit alumni yang kembali bertahun-tahun setelah lulus. Mereka datang bukan semata untuk makan, melainkan untuk bernostalgia, duduk di bangku sederhana, mengingat versi diri yang dulu, ketika hidup masih serba pas-pasan dan perjuangan terasa begitu dekat.

Kantin ini melayani pengunjung setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 14.00 WIB. Dengan kisaran harga sekitar Rp5.000 hingga Rp15.000, Kantin Ibu Tatang menjadi pilihan realistis bagi siapa pun yang membutuhkan makanan layak dengan harga terjangkau.

Di tengah meningkatnya biaya hidup dan menjamurnya tempat makan modern, Kantin Ibu Tatang tetap bertahan dengan kesederhanaannya. Bukan karena mengikuti tren, melainkan karena konsistensi dan kepedulian. Tempat ini menjadi bukti bahwa usaha kecil dapat bertahan lama ketika dijalankan dengan empati, kejujuran, dan pemahaman yang tulus terhadap kondisi sesama.(*)

Penulis : Leonardo