
kabarmuarateweh.id – Kylian Mbappé dan Rayan Cherki melontarkan kritik terhadap permainan keras Paraguay setelah Prancis meraih kemenangan tipis 1-0. Seusai pertandingan, keduanya menyoroti penerapan prinsip fair play dan kepemimpinan wasit yang dinilai terlalu longgar dalam menyikapi banyaknya pelanggaran sepanjang laga. Tak heran, kata kunci “Mbappé vs Paraguay” langsung menjadi sorotan karena memunculkan pertanyaan mengenai absennya kartu kuning meski terjadi puluhan pelanggaran.
Paraguay memang dikenal memiliki karakter permainan yang agresif, dan pertandingan tersebut kembali memperkuat citra tersebut. Sepanjang laga, sejumlah tekel terlambat, sikutan, hingga aksi provokasi beberapa kali terjadi. Beberapa pemain Paraguay, seperti Matías Galarza, Juan Cáceres, Gustavo Velázquez, dan Omar Alderete, menjadi sorotan karena kerap terlibat dalam duel-duel keras yang memicu protes dari kubu Prancis.
Yang membuat kontroversi bukan hanya intensitas kontak, melainkan ketimpangan hukuman. Prancis justru menerima tiga kartu kuning, sementara Paraguay tercatat nol meski permainan mereka disebut “kasar” oleh kubu lawan.
Dalam sepak bola modern, kartu bukan sekadar hukuman, melainkan instrumen kontrol ritme dan keselamatan pemain. Ketika pelanggaran keras tidak diberi konsekuensi, standar permainan bergeser dari teknik ke intimidasi.
Mbappé menyebut ada momen “menekan sepatu ke tulang kering,” sebuah detail yang mengarah pada risiko cedera serius. Cherki bahkan merangkum kejanggalan itu dengan kalimat yang mudah dikutip publik: “Saya tidak mengerti bagaimana Paraguay bisa melakukan tiga puluh pelanggaran tanpa mendapat kartu kuning.”
Angka “tiga puluh pelanggaran” memang terdengar ekstrem, namun justru itulah yang membuatnya menjadi amunisi opini. Dalam logika perwasitan, akumulasi pelanggaran biasanya memunculkan kartu karena dianggap pola, bukan insiden tunggal.
Ketika kartu tidak keluar, pemain yang dirugikan cenderung mencari “keadilan” dengan cara sendiri. Mbappé mengakui respons itu secara terbuka: “Jika mereka ingin bermain kotor, kami juga bisa melakukannya.”
Di titik ini, pertandingan berubah menjadi kontes dominasi psikologis, bukan lagi adu rencana taktik. Perayaan Prancis yang “berlebihan” di depan pemain Paraguay hingga memicu keributan kecil menjadi epilog yang menunjukkan emosi belum selesai di lapangan.
Pernyataan Mbappé dan Cherki adalah protes, tetapi juga sinyal krisis kepercayaan pada perangkat pertandingan. Ketika pemain bintang merasa perlu mengumumkan kesiapan “berperang,” sepak bola sedang kehilangan bahasa utamanya, yaitu permainan.
Paraguay bisa berdalih mereka bermain agresif dan kompetitif, namun agresi tanpa batas sering menyaru sebagai strategi. Jika wasit membiarkan, maka yang dihukum justru tim yang mencoba tetap “tenang,” karena kesabaran tidak tercatat di papan skor.
Prancis pun tidak sepenuhnya bersih, karena respons “kami juga bisa kotor” berisiko menormalisasi balas dendam. Namun kemarahan mereka menjadi cermin bahwa otoritas di lapangan harus tegas, atau pertandingan akan diatur oleh emosi kolektif pemain.
Laga Mbappé vs Paraguay menyisakan pelajaran yang lebih besar daripada kemenangan 1-0, yakni pentingnya konsistensi hukuman untuk menjaga martabat kompetisi. Jika pelanggaran keras tidak diberi kartu, maka pesan yang lahir adalah kekerasan efektif dan teknik opsional.(*)
Penulis : Leonardo













