Anting-anting tembaga, disebut belaong, selanjutnya digunakan dan ditambahkan secara berkala, sehingga membuat lubang telinga yang besar dan panjang.
Tradisi ini beragam di antara sub suku Dayak, namun tujuannya tetap sama, yaitu membuat telinga yang panjang sebagai simbol keanggunan dan kecantikan. Contohnya Suku Dayak Iban, menggunakan manik-manik berat yang menempel pada telinga dengan tujuan untuk melatih kesabaran.
Mirisnya, tradisi Telingaan Aruu sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan, terutama oleh generasi muda. Meski masih ada beberapa perempuan yang melindungi tradisi ini, namum usia mereka sudah berusia tua.
Walaupun tradisi pemanjangan telinga mungkin perlahan tergantikan oleh zaman modern, Telingaan Aruu tetap menjadi warisan budaya yang menarik dan melambangkan kekayaan tradisional suku Dayak di Kalimantan.(Wanda Hanifah Pramono)













