Luhut
Luhut sebutkan fakta mengenai kereta cepat Jakarta-Surabaya. (foto: Instagram @luhut.pandjaitan)

KABARMUARATEWEH.ID – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan info terbaru terkait Proyek Kereta Cepat Whoosh akan dilanjutkan hingga Surabaya.

Kata Luhut, Kereta Cepat Jakarta-Surabaya ini akan kembali bekerjasama dengan China serupa dengan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB).

Dia menyatakan bunga pinjamannya lebih rendah dari tawaran negara lain.

Selain bunga pinjaman yang rendah dari China, teknologi kereta cepat dari China sudah terbukti dengan rampungnya proyek KCJB.

“Dan teknologinya, kita sudah buktikan dan kita sudah punya pengalaman. Masalah kunci pertama ini adalah pembebasan tanah yang tidak jelas-jelas itu,” lanjutnya.

Meskipun bunga pinjaman China untuk kereta cepat lebih murah, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad mengakui skema pinjaman untuk pembangunan kereta cepat akan menjadi beban APBN, karena jarak tempuh kereta cepat Jakarta-Surabaya lebih jauh dibandingkan jarak KCJB.

Tauhid memperhatikan bahwa bunga pinjaman yang dinyatakan Luhut belum dirinci dengan biaya investasi. Ia juga mengingatkan biaya investasi kereta cepat Jakarta-Surabaya sebaiknya tidak lebih mahal dibandingkan bunga yang ditetapkan sehingga tidak membuat risiko yang tinggi.

Rekomendasi Berita  Jalur Utama Semarang-Purwodadi Lumpuh Total Akibat Banjir

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan pemerintah masih melakukan negosiasi terkait bunga utang proyek kereta cepat Jakarta Bandung (KCJB) Whoosh kepada China Development Bank (CDB).

Ia mengungkapkan range bunga pinjaman yang akan diajukan pemerintah yakni 3,5-3,8 persen, meskipun belum ada penetapan dengan pihak bank.

Sebelumnya, proyek Whoosh diperkirakan akan membutuhkan dana sekitar USD 6,07 miliar, namun faktanya bengkak menjadi USD 7,5 miliar atau setara Rp 112 triliun (kurs Rp 15.000 per dolar AS).

“Kalau kemarin anggaran proyek Whoosh Rp 100 triliun, pasti 2 atau 3 kali lipat di kereta cepat Jakarta-Surabaya. Sebab Jaraknya lebih jauh, infrastruktur lebih banyak, itu harus ditinjau kembali. Oke kalau bunga lebih murah, tapi biaya investasi berapa ratus triliun?” Ungkapnya.

Menurut tauhid, apabila Indonesia tidak sanggup membayar anggaran proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya, pemerintah China memberikan opsi berupa pinjaman kepada Indonesia. Adapun peluangnya bisa dalam bentuk kepemilikan saham. Seperti yang terjadi di Sri Lanka, pemerintah China memberikan kompensasi menjadi kepemilikan saham agar beban utang berkurang.