Petugas memindahkan peti jenazah pendaki Gunung Rinjani Juliana Marins ke dalam mobil jenazah di Rumah Sakit Umum Daerah Bali Mandara, Denpasar, Bali, Senin (30/6/2025).

kabarmuarateweh.id – Insiden tragis yang menimpa pendaki asal Brasil, Juliana Marins (26), di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, terus menjadi sorotan publik dan memicu perdebatan luas di media sosial, pada Juni 2025.

Di tengah gelombang kritik dan sorotan publik internasional, sosok Ali Musthofa—pemandu lokal yang mendampingi pendakian Juliana—menjadi pusat kontroversi. Hilangnya Juliana dan upaya pencarian oleh Ali yang dianggap heroik namun berisiko semakin disorot, terutama setelah Juliana ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Detik-detik Hilangnya Juliana dan Upaya Nekat Ali Musthofa

Ali Musthofa adalah orang pertama yang menyadari bahwa Juliana Marins telah menghilang dari rombongan pendakian. Tanpa menunggu tim penyelamat, Ali langsung mengambil keputusan nekat: turun ke jurang hanya berbekal senter dan keberanian.

Dalam video yang beredar luas di media sosial, terlihat Ali menuruni tebing curam tanpa perlengkapan standar keselamatan mendaki seperti harness, anchor, karabiner, atau jumar. Ia mempertaruhkan nyawa demi menemukan Juliana dalam kegelapan malam dan medan ekstrem Cemara Nunggal, salah satu jalur tersulit di Rinjani.

Rekomendasi Berita  Sambut Habib Syech, Muara Teweh Gelar Beragam Persiapan Meriah

“Saya hanya pergi beberapa menit. Saya minta dia istirahat karena bilang lelah. Lalu saya kembali. Saya tidak meninggalkannya,” ujar Ali dengan suara lirih. Cahaya senter dari dasar jurang menjadi satu-satunya petunjuk bagi Ali dalam pencariannya. Sayangnya, upaya evakuasi mandiri itu tidak membuahkan hasil. Juliana ditemukan tewas beberapa hari kemudian.

Ali Musthofa mengaku bertemu dengan Juliana dan lima pendaki lainnya pada Kamis, 19 Juni 2025, malam untuk briefing. Keesokan harinya, Jumat pukul 07.00 WITA, rombongan memulai pendakian dari Resort Sembalun, Lombok Timur. Hingga Sabtu pagi, semua berjalan lancar. Namun, tragedi dimulai ketika rombongan berada di kawasan Cemara Nunggal. Juliana, yang berada di barisan paling belakang, tiba-tiba tidak terlihat lagi.

Ali segera kembali ke lokasi terakhir ia melihat Juliana dan melihat senter korban menyala samar di dasar jurang. “Kejadiannya pada Sabtu pagi. Saya taruh tas dan mencari dia dan lihat posisi senter di tebing,” jelas Ali.

Klaim Keluarga dan Kontroversi Respons Pemandu dan Pengelola Taman Nasional

Rekomendasi Berita  Hati-Hati Penyakit Musim Hujan, Kenali dan Cegah

Pihak keluarga Juliana Marins memberikan penuturan yang berbeda terkait insiden ini. Menurut ayah Juliana, Manoel Marins, dalam wawancara eksklusif dengan program Fantastico, TV Globo, Juliana sempat mengatakan kepada pemandu bahwa ia lelah dan ingin istirahat.

“Juliana bilang kepada pemandunya bahwa dia kelelahan, lalu si pemandu menyuruhnya duduk dan beristirahat,” ungkap Manoel Marins. “Kemudian, dia pamit merokok selama 5 sampai 10 menit. Untuk merokok! Ketika kembali, Juliana sudah tidak terlihat lagi.”

Menurut Manoel, insiden itu terjadi sekitar pukul 04.00 pagi. Namun, video kondisi Juliana baru dikirim kepada pihak koordinator sekitar pukul 06.08. Tim penyelamat disebut baru dihubungi pukul 08.30, dan baru tiba di lokasi sekitar pukul 14.00.

“Peralatan satu-satunya yang mereka bawa hanya seutas tali. Mereka melemparnya ke arah Juliana. Dalam kondisi panik, si pemandu lalu mengikat tali ke pinggangnya dan mencoba turun tanpa alat pengaman,” terang Manoel, menguatkan dugaan minimnya persiapan dan respons yang lambat.

Badai Kritik dan Permintaan Pertanggungjawaban

Usai kejadian, Ali Musthofa menjadi sasaran kritik tajam dari publik, baik di Indonesia maupun Brasil. Komentar di media sosial membanjiri namanya, mulai dari tudingan kelalaian hingga permintaan agar ia dihukum.

Rekomendasi Berita  LPSK Selidiki Kematian Janggal Mahasiswa Unnes, Bukti CCTV Dikantongi

Di tengah tekanan dan trauma yang belum reda, Ali mengaku hanya ingin menyampaikan bahwa dia telah melakukan yang terbaik dalam situasi yang sulit. Namun, bagi keluarga korban, tindakan Ali dan lambannya respons pihak pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani dianggap sebagai bentuk kelalaian yang berujung fatal.

“Meski demikian, yang paling saya anggap bersalah adalah koordinator taman nasional. Dia terlambat menghubungi Basarnas,” tegas Manoel. Ibunda Juliana, Estela Marins, bahkan menyatakan, “Ini menyakitkan sekali. Orang-orang ini telah membunuh anak saya.”

Tragedi ini menyoroti pentingnya standar keselamatan yang ketat, peran pemandu yang profesional, dan kesigapan tim penyelamat dalam setiap aktivitas pendakian, terutama di gunung-gunung dengan medan ekstrem seperti Rinjani.(*)

Penulis : Leonardo

Editor : Apri