Ilustrasi - Sudah 5.914 Korban Keracunan MBG, Bakteri dalam Menu Disebut Penyebab Utamanya [Suara.com/Fakhri]

kabarmuarateweh.id – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang mengungkapkan, sejak Januari hingga September 2025 tercatat 70 insiden keracunan dialami penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dari total puluhan insiden tersebut, sebanyak 5.914 penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tercatat menjadi korban. Di wilayah I Sumatera sendiri, terdata sembilan kasus dengan 1.307 orang terdampak, mencakup Kabupaten Lebong di Bengkulu serta Kota Bandar Lampung di Provinsi Lampung.

Dari 70 kasus keracunan itu, penyebab utamanya ada kandungan beberapa jenis bakteri yang ditemukan, yaitu E. Coli pada air, nasi, tahu, dan ayam.

Lalu, Staphylococcus Aureus pada tempe dan bakso, Salmonella pada ayam, telur, dan sayur, Bacillus Cereus pada menu mie, dan Coliform, PB, Klebsiella, Proteus dari air yang terkontaminasi.

“Jadi, kalau saya sebut insiden keamanan pangan ini ternyata kami menemukan tidak semua terduga beracun, tetapi ada juga karena alergi, kemudian ada hal-hal lain juga,” kata Nanik saat jumpa pers di Kantor BGN, Jakarta, Jumat, 27 September 2025. di kutip kabarmuarateweh.id melalui suara.com.

Rekomendasi Berita  Kasus Keracunan Program MBG Muncul di Jakarta, Pramono Anung Angkat Bicara

Nanik menyatakan BGN bertanggung jawab penuh, dan berjanji untuk berbenah agar kejadian serupa tak terulang ke depannya.

Nanik juga meminta maaf atas insiden keracunan yang dialami anak-anak penerima MBG.

“Dari hati saya yang terdalam, saya mohon maaf atas nama BGN, atas nama seluruh SPPG seluruh Indonesia. Saya mohon maaf,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Nanik menegaskan BGN berusaha keras untuk berbenah, termasuk tidak menoleransi pelanggaran SOP sekecil apapun.

“Terus terang, kami terus maraton (bekerja, red) apa-apa yang harus kami perbaiki,” sambungnya.

Sejauh ini, investigasi terhadap dapur-dapur, termasuk satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) telah dilakukan.

Hasilnya, ada 45 dapur yang ditemukan tidak melaksanakan standar prosedur operasional (SOP), dan 40 dapur diantaranya telah ditutup untuk batas waktu tak ditentukan.

“40 dapur kami nyatakan ditutup untuk batas waktu yang tidak ditentukan sampai semua penyelidikan, baik investigasi maupun perbaikan-perbaikan sarana dan fasilitas selesai dilakukan,” tegas Nanik. (Antara) (*)

Penulis : Yehezkiel

Editor : Apri