Aksi masyarakat di Luwu Timur desak PT Vale Indonesia bertanggungjawab terhadap pencemaran lingkungan di Towuti, Kamis 23 Oktober 2025.

kabarmuarateweh.id, LUWU TIMUR – Dua bulan berlalu sejak kebocoran pipa minyak milik PT Vale Indonesia di Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, namun bau minyak masih menyengat di udara.

Di sejumlah lokasi, lapisan hitam pekat masih tampak menutupi permukaan air dan menempel pada batang padi yang gagal panen. Aliran sungai kecil yang bermuara ke Danau Towuti pun belum sepenuhnya pulih.

Pada Kamis, 23 Oktober 2025, ratusan warga kembali turun ke jalan. Mereka tergabung dalam Solidaritas Rakyat Korban PT Vale (SORAK), menuntut tanggung jawab perusahaan atas lambannya penanganan dampak kebocoran dan minimnya perhatian terhadap warga terdampak.

Di depan kantor pemerintah daerah, warga membentangkan spanduk bertuliskan “Limbahmu Racun Buat Kami”, sebuah seruan protes yang menggema di tengah terik matahari dan aroma minyak yang masih menguar.

Terlihat sejumlah ibu-ibu juga ikut tergabung dalam aksi, mereka menyampaikan kekecewaannya, akibat lambatnya tindakan dari PT Vale.

“Kebocoran minyak sejak 23 Agustus lalu belum ada pertanggungjawaban yang nyata dari PT Vale maupun pemerintah,” ujar Ketua SORAK, Muh Zaid (42), dalam konferensi pers di Makassar sehari sebelum aksi.

Rekomendasi Berita  Dampak Demo Buruh, Ahmad Sahroni Keluhkan Akses: WFH Saja, Pulang Jadi Susah!

Ia mengatakan tumpahan minyak itu bukan hanya mencemari air dan tanah, tapi juga memutus mata pencaharian ribuan warga yang bergantung pada lahan pertanian dan danau.

Zaid menyebut bahwa alih-alih menyelesaikan persoalan, perusahaan justru mencoba membangun narasi bahwa penanganan telah tuntas.

“Di lapangan, warga masih menemukan minyak di permukaan air, di sungai, bahkan di sawah,” katanya. Ia menegaskan bahwa PT Vale telah melakukan pelanggaran berat terhadap lingkungan hidup dan gagal memenuhi tanggung jawab sosial maupun hukum.

Menurut catatan SORAK, tumpahan minyak itu telah melumpuhkan aktivitas ekonomi di lima desa sekitar Danau Towuti. Petani tak bisa mengairi sawah mereka karena air yang mengalir dari hulu telah tercemar.

Nelayan kehilangan sumber tangkapan, sementara ternak warga mati setelah meminum air yang tercemar.

“Sawah-sawah sudah menghitam, dan air dari sungai tak bisa lagi digunakan. Ini bukan sekadar kerusakan, ini bencana,” ujar Hamrullah (42), petani dari Desa Matompi.

Hamrullah menuturkan bahwa warga tak pernah dilibatkan dalam proses penanganan.

Rekomendasi Berita  Malam Minggu di Kertanegara, Prabowo Gelar Pertemuan Tertutup dengan Para Menteri

“Yang berkoordinasi hanya PT Vale dan pemerintah. Kami tidak pernah diajak bicara,” ujarnya.

Ia juga mengaku masyarakat sempat diminta membantu membersihkan sisa minyak tanpa alat pelindung diri. “Kami disuruh turun tanpa APD. Padahal yang kami hadapi minyak mentah. Ini sangat berbahaya,” katanya.

SORAK menilai lemahnya pengawasan pemerintah daerah dan DPRD Luwu Timur sebagai bentuk pembiaran terhadap perusakan lingkungan.

Dalam pernyataannya, mereka menuntut pemerintah dan aparat penegak hukum untuk segera mengambil langkah hukum tegas terhadap PT Vale. Mereka juga mendesak penghentian sementara kegiatan operasional perusahaan hingga seluruh tanggung jawab dipenuhi.

Namun, PT Vale Indonesia menyampaikan narasi berbeda. Dalam keterangan resminya, Head of External Relation PT Vale, Endra Kusuma, mengklaim bahwa perusahaan telah menangani sebagian besar titik terdampak.

“Dari sebelas titik yang dipetakan, enam di antaranya telah selesai dibersihkan dan tidak ditemukan sisa minyak secara kasat mata,” katanya.

Endra menyebut, penanganan dilakukan bersama pemerintah daerah dan tim ahli dari berbagai lembaga, serta disertai uji laboratorium terhadap kualitas air dan tanah.

Rekomendasi Berita  MTQH XXXIII Kalteng: Dewan Al Hadi Ajak Masyarakat Barut Tanamkan Nilai-Nilai Qurani dan Dukung Kafilah Daerah

“Kami memahami keresahan masyarakat; hal itu menjadi motivasi kami untuk memperkuat kerja lapangan sampai Towuti pulih sepenuhnya,” ujarnya.

Namun, di Towuti, fakta di lapangan masih jauh dari narasi pemulihan. Warga masih menutup sumber air yang terkontaminasi. Sawah yang dulunya hijau kini dibiarkan mengering.

Di beberapa tempat, lapisan minyak terlihat mengilap di antara lumpur sawah. Di tepian Danau Towuti, bangkai ikan mengambang pelan, menjadi penanda bahwa pemulihan lingkungan belum benar-benar terjadi.

“Towuti dan Luwu Timur tidak boleh menjadi korban abadi eksploitasi tambang,” kata Zaid di akhir orasinya.

Di belakangnya, suara genderang protes menggema—mengingatkan bahwa di balik kilau nikel dan janji industrialisasi hijau, ada luka panjang di tubuh bumi yang belum disembuhkan.(*)

Penulis : Leonardo