engibaran Bendera One Piece jelang HUT RI ke-80 jadi berita utama media asing.

kabarmuarateweh.id – Sebuah fenomena unik tengah terjadi di Indonesia, yakni maraknya pengibaran bendera One Piece yang menjadi sorotan publik. Di berbagai sudut kota hingga pelosok desa, bendera berwarna hitam bergambar tengkorak bertopi jerami—simbol ikonik kelompok Bajak Laut Topi Jerami dari anime populer One Piece—berkibar dengan mencolok.

Fenomena ini bukan sekadar bentuk hiburan atau tren sesaat. Pengibaran bendera Jolly Roger tersebut telah berkembang menjadi simbol perlawanan dan sindiran sosial yang kuat terhadap berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat. Gaung aksi ini bahkan telah menarik perhatian hingga ke tingkat internasional. Apa yang awalnya muncul sebagai tren di media sosial kini telah berevolusi menjadi gerakan dengan makna sosial yang lebih dalam.

Bendera yang bagi para penggemar (Nakama) melambangkan kebebasan, petualangan, dan perlawanan terhadap tirani, kini diadopsi oleh masyarakat luas sebagai medium protes yang kreatif terhadap pemerintah.

Dari Candaan Viral Menjadi Atensi Internasional

Apa yang dimulai sebagai ekspresi kekecewaan lokal kini telah melintasi batas negara.

Rekomendasi Berita  Jamilah Resmi Pimpin PKS Barito Utara 2025–2030

Media ternama Korea Selatan, News Naver, dalam artikelnya yang terbit baru-baru ini, menyoroti secara khusus bagaimana bendera fiksi ini menjadi alat perlawanan politik di Indonesia.

Dalam laporannya, media tersebut mengulas bagaimana bendera Jolly Roger menjadi populer setelah Presiden terpilih Prabowo Subianto menyatakan tak akan mempersoalkan bendera tersebut.

Fenomena ini dilihat sebagai cerminan unik dari dinamika sosial-politik di Indonesia, di mana budaya pop dan aktivisme warga menyatu dalam bentuk yang tak terduga.

Perhatian dari media asing ini membuktikan bahwa protes ala Nakama ini bukan lagi sekadar isu domestik.

Dunia kini melihat bagaimana rakyat Indonesia menggunakan simbolisme dari anime Jepang untuk menyuarakan aspirasi mereka, sebuah taktik yang cerdas dan sulit untuk dibungkam secara langsung.

Ironisnya, reaksi dari para pejabat di dalam negeri justru terbelah secara tajam, memperlihatkan kepanikan yang janggal.

Di satu sisi, sejumlah aparat dan pejabat pemerintah daerah dengan tegas meminta bendera Jolly Roger untuk diturunkan.

Mereka menganggapnya sebagai tindakan yang tidak menghormati simbol negara atau bahkan berpotensi mengganggu ketertiban.

Rekomendasi Berita  Mendagri Harap Pemda Belajar Model Pengelolaan BUMD ala Jepang demi Perkuat Ekonomi Daerah

Seruan-seruan ini terdengar begitu serius, seolah-olah bendera dari dunia fiksi ini adalah ancaman nyata bagi kedaulatan.

Namun di sisi lain, beberapa kepala daerah justru menunjukkan sikap yang lebih santai. Mereka memandang fenomena ini sebagai bagian dari kreativitas anak muda dan tidak melihatnya sebagai ancaman.

Sikap permisif ini bahkan diamini oleh Presiden Prabowo Subianto yang dalam beberapa kesempatan menyatakan tidak mempermasalahkan pengibaran bendera tersebut, yang justru membuat popularitasnya semakin meroket di kalangan anak muda.

Paradoks Ketakutan: Takut Bendera, Tapi Tidak Takut Hukum dan Tuhan?

Sejumlah pejabat publik yang begitu getol menyuarakan larangan terhadap bendera One Piece, seolah menunjukkan ketakutan yang luar biasa pada selembar kain bergambar tengkorak.

Namun, ketakutan yang sama nyaris tidak terlihat ketika mereka berhadapan dengan hal-hal yang lebih esensial.

Mereka takut pada bendera fiksi, tetapi seolah tidak takut pada jerat hukum saat melakukan korupsi atau menyalahgunakan wewenang.

Mereka cemas dengan simbol tengkorak topi jerami, tetapi seolah tidak cemas dengan pengawasan Tuhan atas setiap tindakan mereka.

Rekomendasi Berita  RUU Perampasan Aset Diminta Ombudsman Fokus pada Kerugian Negara dan Hak Asasi Manusia

Mereka panik oleh kebebasan berekspresi lewat anime, tetapi seolah tidak panik saat rakyat yang memilih mereka menyuarakan kritik dan penderitaan akibat kebijakan yang tidak pro-rakyat.

Ketakutan pada Bendera Jolly Roger menjadi cermin yang memalukan, memperlihatkan di mana sebenarnya letak prioritas dan ketakutan para pejabat tersebut.

Mereka lebih khawatir pada simbol perlawanan ketimbang substansi masalah yang memicu perlawanan itu sendiri.

Pada akhirnya, bendera Jolly Roger yang berkibar di langit Indonesia adalah lebih dari sekadar demam budaya pop.

Ia adalah simbol zaman, sebuah testamen bahwa ketika jalur formal untuk bersuara terasa buntu, kreativitas akan menemukan jalannya sendiri.

Dan bagi para penguasa, mungkin sudah saatnya mereka lebih takut pada alasan mengapa bendera itu berkibar, bukan pada bendera itu sendiri.(*)

Penulis : Leonardo

Editor : Apri